Newsflash
|
Dapatkan fasilitas kredit tanpa anggunan, proteksi asuransi dan investasi dengan menjadi member kampungproduktif.com. Anda juga bisa mempromosikan produk Anda melalui KampungProduktif.com |
Iklan Online
Warning: fopen(/home/kampfcom/public_html/cache/cuaca.txt) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/kampfcom/public_html/modules/mod_cuaca.php on line 101
Warning: fwrite(): supplied argument is not a valid stream resource in /home/kampfcom/public_html/modules/mod_cuaca.php on line 102
sumber: bmg.go.id
| Untung Besar bisnis walet : Sarangnya tak harus menakutkan |
|
|
MENDENGAR sebutan gedung/rumah/sarang burung walet, orang sering membayangkan sebuah bangunan yang terbuat dari tembok beton tinggi besar, megah, dan dikelilingi pagar keliling berjeruji. Ada kesan tak ramah sama sekali, cenderung menakutkan. Orang pun umumnya membayangkan. Di dalam gedung pasti bersarang ribuan burung walet yang siap mengalirkan rupiah ke kocek pemiliknya. Bangunan tinggi, megah, dan kuat itu memang untuk memberikan tingkat keamanan yang tinggi. Hal itu demi melindungi sarang walet dari kemungkinan serangan perampok lantaran harga jual liur burung tersebut mahal. Apa yang sering dibayangkan orang itu ternyata tidak selamanya benar. Sebab rumah walet, menurut pendapat konsultan walet berpengalaman Drs Arief Budiman, bisa dibangun dengan ukuran hanya 5 x 10 meter dan ketinggian 3 meter. Bangunannya pun cukup satu lantai saja. Ketebalan dindingnya hanya setengah bata. Pada bagian plafon tak perlu menggunakan dak beton tapi cukup dengan plafon eternit saja. Bangunan semacam itu cukup menghabiskan lebih kurang Rp 50 juta. Kenyataannya, ungkap Arief yang sudah melanglang ke berbagai kota di Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan, bangunan gedung walet yang megah itu justru tidak ramah lingkungan. Di beberapa kota, bangunan seperti itu justru banyak yang kosong melompong dalam waktu lama. Alhasil, investasi yang dikeluarkan hingga ratusan juta rupiah ternyata tak memberikan hasil bagi pemiliknya. Bangunan budi daya walet yang sederhana, sekarang justru lebih realistis kendati diakui Arief hanya sementara sifatnya. Artinya, setelah populasi walet berkembang dengan baik, investasi untuk membangun gedung yang lebih permanen bisa dilakukan. Dengan demikian, perhitungan break even point (BEP) pun bisa lebih jelas waktunya. Di Sumatera justru banyak rumah walet yang sederhana. Di Kudus, Arief mengelola bangunan serupa di tengah kota milik pengusaha toko emas. Ukurannya hanya 3,5 x 12 meter dengan ketinggian 3 meter. Ketebalan dindingnya setengah bata dengan plafon terbuat dari papan. Namun, setelah dikelola Arief dari Weleri, Kendal itu, bangunan tersebut kini berisi 16 buah sarang dengan koloni 60 ekor burung. Tiga Kunci Konsultan yang sudah menulis 11 buku tentang budi daya ''liur bertuah'' itu memberikan tiga kunci bagi keberhasilannya. Pertama, pengaturan tata ruang yang tepat dengan teknik pembagian antara ruang putar (roving room) dan ruang bersarang (nesting room). Selain itu, pemilihan lubang keluar masuk burung juga harus diperhatikan. Kedua, pengaturan iklim mikro di dalam bangunan. Pengaturan iklim harus memperhitungkan secara cermat komposisi suhu, kelembaban, dan cahaya. Bangunan tidak harus gelap total karena walet ternyata juga mau bersarang di bangunan yang bercahaya remang-remang. Dengan bangunan 5 x 10 meter misalnya, suasana seperti itu bisa diperoleh. Ketiga, menggunakan teknologi suara untuk memanggil kehadiran walet. Teknologi ini memanfaatkan compact disk (CD) untuk merekam berbagai aktivitas walet, kemudian diputar dengan sound system khusus. Namun, pemasangan alat dan operasionalnya juga harus diperhitungkan dengan cermat, misalnya menyangkut volume dan jarak pasang antar-speaker. Jadi, ungkap konsultan yang tinggal di Jalan KH A Dahlan Weleri-Kendal (0294-643449) itu, budi daya walet sekarang lebih banyak bicara soal teknologi. Tidak bisa lagi mengandalkan pengetahuan alami dengan membangun gedung yang asal tinggi besar. (Zulkifli Masruch-91j) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

